Posted on 01:17 Hrs,December 11th, 2007 by Vankojo
TENTU saja kita semua akrab dengan kata “kekuatan” (power), tetapi hal ini tidak berarti kita pasti akan setuju dengan apa yang dimaksudkannya. Sebagai contoh, bayangkan saja berbagai penggunaan yang berbeda dari kata ini. “Electric power” (daya listrik), “water power” (kekuatan air), “power elite” (elit kekuasaan), “consumer power” (kekuatan konsumen), “military power” (kekuatan militer), “power of love” (kekuatan cinta), “black power” (kekuatan kulit hitam), “moral power” (kekuatan moral), “the power to corrupt” (kekuasaan untuk korup). Dapatkah Anda memikirkan penggunaannya yang lain dari kata itu?


Kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa sejumlah definisi mengenai kekuatan yang berbeda dibutuhkan. Tetapi beberapa penggunaan ini memiliki kesamaan dalam pengertian bahwa ’kekuatan’ itu ialah kemampuan untuk melakukan sesuatu. Ada yang melakukannya melalui mekanisme sebab-akibat, contohnya: ’kekuatan air’ (water power) menyebabkan ‘electric power’ (daya listrik). Ada juga lainnya, yang melakukannya sebagai kekuatan kreatif –kekuatan kulit hitam dan kekuatan cinta– dan yang lainnya melakukannya sebagai kekuatan pemaksa, contohnya: kekuatan militer. Di samping itu, pada kasus yang lain kekuatan adalah bersifat personal, contohnya: pada saat kita berbicara tentang kekuatan moral dari Martin Luther King.Mendominasi berarti mengamankan kekuatan seseorang dengan mengorbankan kekuatan yang absah dari yang lain. Kekuatan dari sang pemilik dalam hal ini sama sekali tidak diderivasikan atau diturunkan dari prinsip timbal-balik (mutualitas) namun dari prinsip keunggulan-diri. Kekuatan sebagai dominasi merupakan lawan yang tegas dari kekuatan sebagai yang memberi kesempatan. Yang pertama mengingkari hak pertumbuhan dan perkembangan dari semua kecuali dirinya sendiri, atau paling tidak mengendalikan atau mengontrol pertumbuhan dan perkembangan dari yang lain dengan berdasarkan kriteria keunggulan-dirinya. Kekuatan sebagai penumbuh akan bersifat sebaliknya, yakni memandang pertumbuhan dan perkembangannya sendiri ada hanya di dalam komunitas yang sederajat. Inilah hubungan yang timbal-balik (mutualitas).

Sebelumnya disebutkan bahwa kontrol berkonotasi pembatasan penggunaan kekuatan, termasuk hal yang secara aktual mencegah penggunaannya. Ketika kontrol itu berasal dari penilaian yang kuat bahwa mutualitas telah diingkari, kontrol itu bisa disebut sebagai koersi. Tetapi jika kontrol itu muncul dari kebutuhan untuk mendominasi yang lain, kontrol itu bisa disebut sebagai koersi yang tak adil atau dominasi.

Dalam masyarakat yang bebas, adalah penting untuk mengajukan pertanyaan, Siapa atau apa yang memiliki kekuatan? Apakah sebuah bangsa memiliki kekuatan? Apakah serikat buruh memiliki kekuatan? Apakah ada sesuatu yang disebut kekuatan Kongres itu? Atau kekuatan Presidensial? Jika kita konsisten dengan definisi kita atas kekuatan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban yang afirmatif. Tetapi pertanyaan kritisnya di sini ialah: Apakah lembaga-lembaga itu, seperti serikat buruh, universitas, atau pemerintah, memiliki kekuatan yang independen dari kekuatan yang ditugaskan padanya pertama kali oleh masyarakat yang membentuk lembaga-lembaga itu? Militer di masyarakat yang bebas memiliki kekuatan, tapi apakah kekuatan itu independen dari harapan-harapan masyarakat yang memutuskan untuk membentuk kekuatan bersenjata itu?

Institusi-institusi secara sederhana adalah cara masyarakat mengorganisasikan sendiri dengan tujuan untuk hidup lebih bermakna kemanusiaan. Institusi-institusi itu tidak memiliki kekuatan mistik atau identitas dalam dirinya sendiri, meskipun mereka mandiri dari kekuatan awal masyarakat yang membentuknya. Struktur ini mensyaratkan tak ada kekuatan yang melampaui kekuatan yang ditanamkan di dalamnya oleh kesepakatan masyarakat yang merancangnya. Baik waktu maupun keadaan khusus tidaklah boleh memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan kekuatan baru. Inilah arti dari pernyataan Konstitusi kita bahwa pemerintah kekuatannya diturunkan (diderivasikan) dari “kesepakatan” yang diperintah.

And so..

—————

Tulisan ini diinspirasi oleh buku “Deciding on the Human Use of Power” yang ditulis Maureen Carey, Robert Cunnane, Paul Chapman, Antony Mullaney dan Anne Walsh. Semoga berguna.

Comments

qw42 qw42 on 10 January, 2008 at 3:03 pm #

ajari aku tuk jadi orang yng melek web


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: