Posted on 01:56 Hrs,December 15th, 2007 by Vankojo

Jurgen HabermasPERNAHKAH terpikir oleh anda untuk mematikan HP/ponsel anda barang sejenak? Satu, dua, tiga hari, atau satu, dua, atau tiga minggu? Apa yang anda rasakan? Kenikmatan atau malapetaka? Empat atau lima tahun lalu, mungkin tidak susah menjawab pertanyaan ini. Ya karena HP memang bukan menjadi barang yang mudah didapatkan. Sangat mungkin pula kita belum memilikinya. Bahkan mereka yang punya secara cepat kita golongan sebagai “orang kaya”. Kini “nyaris” semua orang telah memilikinya. sulung saya berumur 6 tahun kelas 1 SD pun pernah merengek untuk memintanya, gara-gara sekolahnya jauh dari rumah dan setiap menjemputnya saya sering terlambat. “Beliin HP, biar saya bisa SMS kalau udah keluar sekolah”.

Tukang becak di sebelah rumah juga sudah punya, nomornya ditulis di bodi becak, agar bisa dicatat dengan mudah oleh pelanggannya. Tukang sayur di pasar pun memiliki beberapa nomor, agar pelanggannya bisa memesan sayuran tertentu. Penjual bakso keliling, dia sekarang lebih banyak menerima panggilan kalau ada yang ingin baksonya. Tinggal SMS aja dia sudah datang dengan sendirinya. Kuli bangunan rumah saya juga punya. Ia ingin agar mereka yang membutuhkan jasanya bisa mudah menghubunginya.

Ya HP telah untuk semua kalangan, dan tanpa reserve apapun, ia memang telah banyak menolong “pekerjaan” yang sulit dilakukan bila tak menggunakan HP. Pendek kata, ia mempermudah pekerjaan sulit.

Tapi pernahkah anda menemui situasi ketika teknologi yang satu ini juga mempersulit pekerjaan anda. Saya yakin pernah :-) atau semoga pernah. Saat anda diuber-uber deadline pekerjaan anda, dan anda belum menyelesaikan pekerjaan dimaksud, HP anda terus berdering. SMS terus berdatangan. Saat tagihan berbagai kartu kredit dan cicilan lain datang karena anda terlambat membayarnya. Saat anda membutuhkan HP tapi signalnya mati karena undermaintenance. Saat istri/suami/pacar anda mengetahui ada SMS rahasia di ponsel anda dari selingkuhan anda (amit-amit!!!). Saat HP anda dan nomornya dicuri maling, dan akhirnya anda harus terlibat dalam birokrasi modern yang minta ampun bengisnya. Saat anda ditelepon oleh seseorang untuk mendapatkan uang, tapi ponsel anda “mailbox” dan akhirnya si penelpon jengkel  dan tidak jadi memberi uang :P (ini saya sering mengalami he he). Saat tagihan ponsel pasca bayar membengkak dan anda tak punya uang sama sekali untuk membayarnya (apalagi yang ini, saya rutin mengalami). Dan berbagai “saat-saat” lain yang membuat HP seolah tidak bersahabat dengan kita.

Kita jengkel dengan situasi ini, dan kerap menyalahkan HP sebagai penyebabnya. OK, dalam beberapa situasi di atas, HP tak lagi menjadi teman yang “positif”. Ia tak jarang juga negatif. Pernah diomelin saudara karena lama tak berkunjung karena sekarang bisa SMS-an aja? Entahlah dibandingkan fungsi positifnya, apakah kita pernah mengukur fungsi “negatifnya” sudah hampir 7 hari ini saya mematikan HP saya. Telepon rumah juga kucabut. Beberapa orang yang sering men-deadline pekerjaan saya pun kelimpungan. Sering juga keluarga sulit menghubungi saat saya di luar rumah, di mana sebelumnya hal itu tak terjadi.

Rekan kerja kelabakan karena tak bisa menghubungi, dan bila bertemu hanya marah-marah. Jadi betul-betul gila. Hanya dari mematikan HP saya 7 hari, perilaku ini telah membuat sekitar saya kelabakan bukan kepalang. Saya dituduh ini dan itu. Termasuk dituduh tidak bisa membayar tagihan (he he yang ini benar kali ya…).

Ini situasi yang tidak saya alami, dahulu empat lima tahun ketika masing-masing kami tidak memegang HP. Saat itu komunikasi juga berjalan lancar, tidak ada kendala yang begitu signifikan.

Kesimpulannya, kita tidak jarang mengalami situasi ketergantungan terhadap teknologi yang begitu akut, tanpa kita menyadarinya. Kita tak jarang tersiksa oleh kehadirannya, dan di saat yang sama kita masih sangat membutuhkannya. Cercaan iklan teknologi bahkan kini sudah sampai pada tahap yang mencemaskan. Mereka tak lagi menggunakan jargon kemudahan berkomunikasi, melainkan sudah tahap pencitraan diri. Dengan bahasa sederhana, kalau HP merek ini jauh lebih jelek / baik dibandingkan lainnya. Layanan nomor ini jauh lebih unggul atau sebaliknya dibandingkan ini.

Fungsi teknologi yang mula-mula untuk memudahkan, kini berganti. Lama-lama kita (maksudnya: saya) sering merasakan penderitaan bersamanya. Saya pun mengingat-ingat kebenaran apa yang disampaikan Habermas beberapa waktu lalu. Bahwa teknologi (dan juga ilmu) merupakan sarana kekuasaan yang paling ampuh untuk mendominasi. Jurgen Habermas adalah filsuf Jerman kontemporer yang sangat terkenal dengan pemikiran-pemikiran kritisnya. Ia dikenal melalui karyanya seperti, Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi (1990), Knowledge and Human Interest (1971), ”The Theory of Communicative Action” (1984). Ia lahir di Gummersbach, Dusseldorf, Jerman pada 18 Juni 1929. Ia belajar filsafat, sejarah, ekonomi, psikologi, dan sastra Jerman di Gotingan, Zurich. Gelar doktor dalam bidang filsafat dengan judul disertasi Das Absolut und Geschicte (Yang Absolut dan Sejarah). Ia diangkat menjadi professor filsafat dan menjadi direktur Max Plank Institute di Stanberg. Ia meninggalkan dunia universitas tahun 1971.

Kita pun hidup di dunia hiperrealitas seperti kata Baudrillard. Ya tak jarang begitu angkuh kita merasa “bebas” dengan keberadaan teknologi dalam situasi mana kita begitu tertindas dengannya.

Masih saya lanjut, saya masih melakukan uji coba mematikan ponsel saya 3-4 minggu ke depan. he he tidak total sih, kadang-kadang masih harus saya buka malam-malam untuk melihat SMS-SMS masuk. Bila itu SMS menyenangkan, hati saya senang, bila umpatan atau tagihan, saya jadi menderita lagi.

Hmm, mungkin ada yang mau nyoba tidak membuka email selama sebulan, dua bulan, tidak ngeblog selama 3 bulan? He he silakan dicoba, mari menikmati zaman lampau.

It’s not dream…

Posted in Dream, Social | Read More »

Comments

goyangan goyangan on 22 December, 2007 at 12:44 am #

kalau nggak hape nggak hidup saya nggak dapat orderan prend :D


jimmy jimmy on 22 December, 2007 at 4:28 pm #

wah kayanya sekarang susah deh kalo gak nge-hp, nge-blog, nge-email dll.. beberapa hari boleh lah.. tapi kalo kelamaan kita sendiri yang rugi toh? hehe pendapat aja.. btw.. salam kenal ya :D


Ivan Petrus Ivan Petrus on 26 December, 2007 at 5:28 am #

Saya juga pernah nyoba matiin hp untuk beberapa hari. Memang enak sih, gak ada yg gangguin. Kadang malem pun saya suka matiin hp, abis ada aja orang2 yg nganggep karna ada HP jadi bisa dihubungi 24jam. :D


icha icha on 9 January, 2008 at 4:53 am #

kalo mau tidur saya matiin hp..gak mau diganggu waktu istirahatnya..

tapi pernah juga nyoba matiin hp 1 hari penuh, karena lagi deadline kerja, gak mau diganggu..ada nikmatnya juga. tapi lama-lama…..sepiiiiiiiiiiiiii…:)


happy happy on 25 January, 2008 at 6:53 am #

halah mas…justru gara-gara hp orang mati, jadi bikin miskomunikasi, salah paham. jadi bikin orang marah.
sekarang, hentikan untuk mengajak orang mematikan hp ya hahaha…
bener juga komen goyangan tuh, ga da hape, calon penghasilan bisa jadi bukan milik sendiri hehehe…


danu danu on 15 February, 2008 at 4:07 am #

Susah mas…
soalnya dah kebiasaan,
matiin bentar,
1-jam tangan udah gatel pengen ngidupin lagi…
wkekekeke…


onald jagau onald jagau on 28 February, 2008 at 12:58 pm #

Ha…aaa…..aa.
Ada pembelaan nich, bagi yang punya kesumpekkan yang sama. Akan tetapi saya mencoba berbeda dengan Menyekolahkan HP, agar tidak menggangu PAGI SAYA…… Dapet Duit Tuch.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: