Masih ingat kata-kata terkenal Descartes? Ya Cogito Ergo Sum. Dia bilang “saya berpikir maka saya ada”, “I thing, therefore I am”. Semboyan Cogito Ergo Sum lahir sebagi kritik terhadap fundamentalisme Yunani yang pada abad ke-15 mendominasi alam Eropa saat itu. Semboyan ini ingin mendobrak dan mempertanyakan semua kebenaran yang ada sekaligus menolak otoritas, terutama masa kegelapan di Eropa, saat itu. Kita tahu, kebenaran saat itu adalah kebenaran yang dilegitimasi oleh penguasa. Dalam filsafat, semboyan ini menolak fundamentalisme dunia ide plato yang tidak rasional.
Berikutnya, pemikiran inilah yang melegitimasi abad modern dengan segala tingkah lakunya. Dengan “saya berpikir maka saya ada” maka semua kebenaran akhirnya dilekatkan pada satu-satunya dasar, ialah rasionalisme. Segala hal yang tidak rasional ditolak dengan alasan bahwa satu-satunya yang paling unggul dalam manusia adalah akalnya.
Orang-orang postmo mengritik keras “Cogito Ergo Sum” ini. Mereka menolah cara berpikir yang rasional-positivistik ini. Seolah-olah bila kita tidak berpikir dan menggunakan logika rasio maka benar-benar tidak ada apapun. Semua tergantung pada akal, dan bahkan budi pun diabaikan, sebab dianggak tidak rasional.
Tapi kali ini saya tidak sedang membahas “Cogito Ergo Sum” ini. Ini soal pribadi. Tidak ada hubungannya sama soal-soal filsfat di atas. Akhir-akhir ini justru yang saya rasakan adalah “Saya Berpikir Maka Saya Bekerja”. Ada obsesi untuk mewujudkan semua ide menjadi pekerjaan. Setiap punya ide dan saya kira itu bisa direalisasikan, maka secepat-cepatnya berusaha untuk mewujudkannya.
Yang menjengkelkan, bila ide muncul di saat sebelum pekerjaan yang pertama usai. Akibatnya segala pekerjaan menumpuk jadi satu, dan kalau sudah begitu nggak ada yang selesai dan hanya membuat stress saja
(Termasuk rutinitas nulis di blog ini juga sering terhambat karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk tadi). Skala prioritas, manajemen waktu, manajemen kerja … apa itu? Saya tidak mengenalnya. Semua pekerjaan begitu saja berjalan. Ada yang berhasil ada pula yang nggak tahu ada hasilnya apa nggak. Ya biarlah hidup begitu. Mengalir seperti air. Air Mancur.
jadinya kadang-kadang saya berpikir yang lain. Ini soal kemiskinan dan pengangguran dan berbagai jenis kelaparan yang sekarang marak melanda di mana-mana. Bila saja mereka (orang-orang miskin dan menganggur) seperti saya (ha ha ha) pastilah nggak ada yang nganggur. Toh semua orang bekerja, entah ada gajinya atau tidak
Eit, ini hanya guyon, karena kita tahu soal miskin dan lapar di negeri ini tidak sesederhana seperti tulisan yang anda baca ini. (Mimpi Kali Yeee)
Entahlah, sampai sekarang saya masih berpenyakit, “Saya Berpikir Maka Saya Bekerja” ini… Mungkin saja karena sudah berpuluh-puluh tahun saya merupakan kategori pengangguran yang ditetapkan pemerintah. Dan saya tidak pernah merasa menganggur seperti yang dikira-kira pemerintah. Di KTP saya yang lama kolom pekerjaan masih terisi “wiraswasta” he he.
Oh netpreneur-netpreneur…
sama mas.. saya juga sering gitu, punya ide banyak numpuk jadi 1, akhirnya malah gak kekerjain sama sekali.. kayanya kalo ada ide datang harus kita catat dulu ya, terus selesaikan pekerjaan yang sekarang lagi dikerjain, setelah selesai lihat catatan untuk melakukan pekerjaan berikutnya, jadi gak akan ada yang ketinggalan.. gimana?
hehe.. easier said than done ![]()
benar bos,,,saya bekerja maka rezeki datang.
Saya mencari kodew maka saya pingin Merit